Tampilkan postingan dengan label kehidupan Dhe Dusuners. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan Dhe Dusuners. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2009

The End of Journey

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Puji syukur atas kehadirat Sang Pencipta, berkat karunia dan petunjuk dari-Nya, Alhamdulillah seluruh siswa dan siswi Dhe Dusun semua nilainya tuntas dan berhak untuk melanjutkan masa
pembelajarannya di kelas 9 pada tahun depan.
Esok hari tepatnya hari sabtu tanggal 27 Juni 2009, pembagian hasil pembelajaran siswa dan siswi Dhe Dusun selama satu tahun. Hasil belajar dan kerja keras yang telah dilakukan siswa-siwi Dhe Dusuners akan berbuah angka-angka yang menunjukkan keberhasilan mereka. Mungkin saja angka yang tertulis tidak sesuai dengan harapan, namun yakinlah, angka tersebut adalah angka yang telah diberikan oleh Sang Khalik dan wajib disyukuri. Bagi yang mendapatkan angka rendah, buatlah angka tersebut sebagai motivasi untuk membangkitkan semangat untuk belajar dengan lebih giat dan rajin dan bagi yang mendapatkan angka tinggi, ingatlah!, roda kehidupan terus berputar dan berputar maka bersiaplah untuk terjatuh kelak.
Pada hari itu juga, merupakan akhir dari perjalanan siswa dan siswi Judez Krapuwh dan Anak Dusun. Kami yang berjumlahkan 44 orang telah menjalani hidup bersama di dalam kelas 8D selama 2 tahun kemungkinan akan menjalani kehidupan kelas 9 di kelas yang berbeda. Menurut kabar angin yang beredar di masyarakat SMPN 1 Bogor, bahwa kelas 8 reguler akan di rolling sehingga kekompakan dan kebersamaan siswa-siswi Dhe Dusun akan pudar. Persahabatan yang telah dijalin selama 2 tahun mungkin akan renggang dan tergantikan oleh yang lain. Suka duka,tawa canda,pertengkaran,keributan, keceriaan, keseriusan yang telah dijalani dan telah terekam dalam ingatan kita, goresan dan lubang-lubang pada dinding kelas 8D telah menjadi saksi bisu dalam perkembangan kepribadian siswa-siswi Dhe Dusun.
Teruslah berjuang walau tak bersama, teruslah berkarya walau tlah terpisahkan meskipun kita akan segera berpisah, namun hati akan selalu berdoa, agar kenangan indah yang telah tercipta, takkan musnah untuk selamanya. Amin...
Akhir kata kami sebagai pihak Admin mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan Dhe Dusuner Member atas dukungan, dan kritikan yang selama ini telah diberikan kepada kami, dan mohon maaf apabila kami melakukan kesalahan, baik sengaja ataupun tidak disengaja.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Read More......

Selasa, 16 Juni 2009

The History of Pojok Anak Dusun

Ini mungkin adalah tulisan terakhir yang akan diterbitkan oleh Administrator Pojok Anak Dusun. Karena, menurut kabar yang beredar baik itu dari para guru ataupun dari murid-murid SMPN 1 yang lain, bahwa pada kenaikan kelas 9 nanti, semua kelas Reguler dari 8C, 8D, 8E, 8F, 8G sampai 8H seluruh siswanya akan di Rolling atau bahasa sepak bolanya di Rotasi.

Dalam kesempatan kali ini saya( Admin ) akan menceritakan sedikit sejarah berdirinya situs Pojok Anak Dusun atau yang dulunya News Update Anak Dhe ini. Cerita bermula dari 2 orang member dusun yang sejak awal memang merencanakan pembuatan situs/Blog khusus mengenai kisah-kisah Dhe Dusuner member sehari-harinya, kalian pasti sudah bisa menebak siapa kedua orang itu, ya dia adalah Faza & Yazid, yang awalnya hanya iseng-isneg buat tulisan "NEWS UPDATE" di papan tulis bagian atas itu, entah dari siapa ide membuat blog itu. Blog pertama Dhe Dusuner adalah NewsUpdateAnakDhe dengan berita utamanya adalah CELANA DALAM FADHIL SANGAT “KEREN” yang merupakan sejarah terlucu yang juga satu-satunya Artikel yang di terbitkan di rumah Radith dan juga satu-satunya artikel yang ditulis oleh Wildan. Kemudian NewsUpdateAnakDhe berganti nama menjadi Pojok Anak Dusun karena adminnya lupa dengan password di wordpressnya, karena kejadian tersebut admin dri Pojok Anak Dusun ini berinisiatif menciptakan blog baru di Blogger ini. Setelah beberapa kali diedit sana-sini akhirnya admin Faza berhasil menciptakan Pojok Anak Dusun dan langsung menyuruh Admin Yazid untuk menulis artikel-artikel yang seperti saya terbitkan ini. Sungguh suatu keadaan yang menyedihkan karena dulu kami di 8D belajar ceria, senang , tanpa ada rasa canggung, bersahabat, tapi sekarang.... semua kenangan tinggal kenangan, semua persahabatan Dhe Dusuner member maupun keadaan Timlas 8D yang dalam performa menanjak setelah membantai Farhan CS. 26-6 minggu lalu, kini diujung tanduk dan hal ini juga dirasakan oleh seluruh siswa kelas reguler.Yang menjadipertanyaan adalah "MAU DIKEMANAKAN SEMUA PERSAHABATAN ITU? MAU DIAPAKAN BLOG INI SLANJUTNYA?

Read More......

Sabtu, 13 Juni 2009

The Future Pojok Anak Dusun

Karena menurut kabar yang beredar di lingkungan sekolah bahwa saat kelas sembilan nanti, kelas akan diacak. Sebagai pihak admin, saya memerlukan bantuan para member Dhe Dusun untuk memberikan pilihan apa yang harus dilakukan oleh pihak admin pada blog ini jika kelas sembilan nanti Dhe Dusuner member akan dipisah.




Read More......

Jumat, 12 Juni 2009

Test is Over...!!!!

Hari ini, tepatnya pada hari Jum'at tanggal 12-06-2009. merupakan hari terakhir seluruh siswa kelas 8&7 SMPN 1 Bogor menjalani Ulangan Kenaikan Kelas. Bagi siswa Dhe Dusun, hari terakhir ini merupakan hari dimana perasaan malas untuk belajar menghadapi ulangan mulai muncul. Seperti hari-hari sebelumnya saat menjalani ulangan, Siswa Dhe Dusun selalu berkumpul pada satu titik untuk mempelajari ulang tentang materi yang telah dipelajari pada malam harinya. Beberapa titik diantaranya, di teras lapangan, dibawah pohon dekat gerbang, dan di dekat tong sampah. Ada yang serius mempelajarinya dan menanyakan rumus-rumus (terutama saat ulangannya Matematika), ada yang hanya meminjam buku orang lain dan dibuka, namun tidak dibaca, malahan ada juga yang tampak santai karena telah mempersiapkan bekal untuk mengisi ulangan. Setiap selesai satu pelajaran, pasti siswa Dhe Dusun berkumpul kembali sambil membahas ulangan tadi. Mereka saling menanyakan jawaban masing-masing pada ulangan tadi. Biasanya jika seseorang jawabannya berbeda sendiri, langsung di sorakin dengan keras. Kegiatan pengisian lembar jawaban ulangan pun beragam. Ada yang saling bertukar jawaban (bertanya pada yang lain), malah ada juga yang membuka buku pelajaran yang di ualngankan sambil bermain Handphone. Namun, setelah jam terakhir berlalu, siswa Dhe Dusun merasa beban menghadapi ulangan telah usai. Sebagian dari mereka yang hobi bahkan maniak bermain bola memanfaatkan kesempatan ini untuk bermain Futsal di Pangrango Plaza. Namun, jika ditanyakan mengenai perkiraan mata pelajaran yang mungkin di Remidial, 70% siswa Dhe Dusun menjawab, "MATEMATIKA".

Read More......

Sabtu, 30 Mei 2009

Yugi Oh Duel Effect

Yugioh ya permainan kartu yang satu ini memang menimbulkan ketagihan para pemainnya, salah-satunya Garin, awalnya dia hanya iseng-iseng bermain menggunakan Deck Kartu Made atau Deaz dengan lawan yang itu-itu saja seperti Faiz, Ryan, Made, Deaz, Alfian. Sampai akhirnya dia membeli kartu Deaz dengan harga yang lumayan tinggi.

Musim YugiOh berawal dari kelas 8C yang kebanyakan anaknya memang au**s, kekanak-kanakan dSb. Menyebar di kalangan para lelaki Dusun karena permainan ini di bawa oleh Made, Deaz & Hafizh. Saat ini pemainnya sudah mencapai 75% populasi dari para lelaki Dusun diantaranya, Garin, Made, Deaz, Hafizh, Ryan, Faiz, Fadhil, Alfian, Wildan dan Yazid. YugiOh ini sering menimbulkan kontroversi diantara mereka seperti "PENGGACULAN" yang dilakukan Oleh DUO DaGong(Danny Agong), pengambilan kartu terus menerus seperti yang dilakukan oleh Duelist Fadhil Dll. Tapi mungkin saja musim YugiOh akan berakhir seperti apa yang terjadi pada Musim YugiOh di era 2007-2008 kita lihat saja.


Read More......

Rabu, 27 Mei 2009

Telan Ludah

Pada saat pelajaran Bahasa Inggris, pengambilan nilai speech pun selalu dilanjutkan. Seluruh siswa dan siswi Dhe Dusun pun keluar kelas dan duduk menunggu giliran, sedangkan yang sudah di tes hanya bercanda dan tertawa, karena otak dari kekonyolan 8D (Faiz, Agung) telah selesai di tes dan dapat bernafas tenang. Siswa Dhe Dusun pun mengobrol dan ada juga yang membaca No-mik. Kemudian, Faiz mendapat ide. "Eh jangan pilih Alfian dulu. Nanti biar dia yang terakhir", kata Faiz kepada siswi yang telah keluar dari dalam kelas, karena merekalah yang menentukan siapakah siswa yang akan di tes selanjutnya. "Emang kenapa is kalo si Fian terakhir ?", tanya Radit. "Kan biasanya kalau terakhir tuh pada masuk semua. M**p** 2X tuh si Fian diliatin", kata Faiz. "Emang lu pernah ?", tanya Radit lagi. "Sering, pas story telling", kata Faiz. Namun rencananya gagal. Akhirnya setelah Fian selesai, seluruh siswa dan siswi Dhe Dusun pun masuk. Guru tersebut pun mengucapkan terima kasih karena seluruh siswa dan siswi Dhe Dusun telah membuat dan menghafal pidato dengan baik. Guru tersebut memberikan waktu 30 menit untuk mengobrol dengan teman. Saat sudah keluar, guru tersebut kembali lagi ke dalam kelas. "Ian..Ian ini ian", guru tersebut memanggil Edrian. Namun Ryan malah berdiri. "Bukan, Edrian", kata guru tersebut sambil memberikan pulpen. Ryan pun menelan kembali ludahnya karena malu disorakin oleh seluruh kelas.

Read More......

Situasi Menguntungkan

Saat pelajaran Bahasa Sunda, Dhe Dusun mendapatkan latihan untuk menghadapi ujian semester. Namun, seperti biasa, saat guru yang mengajar sedang keluar dari kelas, Anak Dhe Dusun saling bertanya jawaban dari nomor satu sampai nomor 15. Malah ada juga yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengerjakkan PR Fisika (mungkin sudah selesai mengerjakkan tugas B. Sundanya). Kemudian saat guru tersebut kembali, bel pun berdering dan latihan pun dikumpulkan. Kemudian, tampak Faiz yang tampak gelisah dan berjalan menuju tempat duduk Made. "Eh de, lu bawa penggaris nggak ?", tanya Faiz. "Ini", jawab Made sambil menunjukkan penggarisnya. "Ini mah kagak 30cm Tablo. Kan disuruhnya 30cm", kata Faiz. "Kan makanya kemarin gua kagak bawa penggaris gara-gara patah, ini penggarisnya", kata Made. "Inikan 30cm", kata Deas sambil melucu. "Ya yas", kata Faiz. "Emang lu bawa ?", tanya Made kepada Faiz. "Kagak. Gua bukan masalah penggarisnya, tapi gua kagak bawa buku gambarnya", kata Faiz. "Mampus sia", kata Made. Kemudian Alfian menghampiri Faiz. "Eh is, lu kagak bawa ?", tanya Alfian. "Lu ?", Faiz balik bertanya. "Bawa, cuman gua kagak bawa penggaris", kata Alfian. Faiz pun langsung menampar wajah Alfian. Kemudian kabar gembira datang. Ternyata guru yang mengajar tidak dapat datang. Faiz pun langsung bernafas lega. "Eh is, gurunya kagak ada ?", tanya Alfian. "Kagak, hoki gua", kata Faiz. "Padahal gua udah nemu penggarisnya", kata Fian.

Read More......

D'New Bald Student

Hari Rabu merupakkan hari pertama masuk Dhe Dusun setelah libur selama 2 hari. Kelas masih terlihat acak-acakan dan terdapat tumpahan cairan berwarna coklat di lantai barisan ke 5 dari pintu masuk kelas, karena hari kemarinnya mungkin dipakai untuk tes SBI. Terlihat Deas dan Radit yang sedang bercengkrama dan Inasya sedang mengobrol dengan temannya. Tak lama kemudian, Faza pun datang. Radit langsung menanyakan soal PR Fisika. Kemudian mulailah berdatangan siswi Dhe Dusun dan membuat suasana menjadi sedikit ramai. Kemudian bertambah ramai dengan datangnya Garin, Deas pun kembali ke atas. Mereka semua langsung mengerjakkan Fisika. Saat sedang serius mengerjakkan, munculah sesosok manusia yang kepalanya bersinar. Ternyata itu adalah Made yang rambutnya di "gundulin". Saat masuk, Made ditertawakan oleh Radit, Faza, Deas, dan Garin. "Eh ada tuyul", kata Radit. Kemudian Yazid pun datang. "Eh jit, anak buah lu nih", kata Radit sambil menunjuk Made. Yazid pun tertawa dan memegang dan menggosokan tangannya di kepala Made. Datanglah Luthfiadi. "Eh Lut, ini anak buah lu", kata Radit sambil menunjuk Made. Luthfiadi pun sepertinya mengabaikan omongan Radit dan hanya berjalan menuju tempat duduknya.

Read More......

Selasa, 26 Mei 2009

Crash Landing

Pada hari Jum'at, Dhe Dusun melakukan aktifitas Olahraga di GOR Pajajaran. Setelah pelajaran Ekonomi selesai, para siswa dan siswi pun langsung ganti baju. Terlihat dilapangan para supir angkot sudah Stand-by. Seperti biasa, Siswa Dhe Dusun bermain bola terlebih dahulu. Namun, rombongan Fian, Edrian, Luthfi, Hafizh, Radit, Bagas, Fadhil, Wildan, Made, Deas, dan Faiz berangkat ke GOR duluan. Didalam angkot, seperti biasa, mereka mengobrol. Kemudian sampailah di GOR. Rombongan pun membayar ongkos angkot masing-masing. Sebelum masuk, terdengar suara Drum dan trumpet dari dalam GOR. "Eh is, kagak di sekolah kagak di GOR tetep aja gua denger suara Drum Band", kata Faza. "Iya sia", kata Faiz. Kemudian, saat masuk ke lapangan sepak bola, terlihat tim kesebelasan yang sedang berlatih. Kemudian rombongan mencari guru olah raga. Setelah bertemu dengan guru olahraga, rombongan membuat barisan. Guru tersebut menerangkan tentang nilai-nilai siswa dan siswi Dhe Dusun yang masih kosong dan menerangakan apa yang akan di tes pada hari itu. Ketika sedang serius, tiba-tiba "Blar...!!!", terdengar suara ledakan yang keras. Para siswa yang datang pertama menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari tahu sumber ledakkan tersebut. Ternyata ledakkan tersebut berasal dari bola plastik yang dibeli Anak Dhe Dusun yang diledakkan oleh Wildan. Ledakkan tersebut terjadi karena saat Wildan melompat, bola tersebut terinjak oleh Wildan dan meledak. Wildan pun diejek dan ditertawakan oleh seluruh siswa yang sedang berbaris.
Kemudian masing-masing 4 orang siswa harus lari 100m untuk mendapatkan nilai, namun pada awalnya hanya sebagai latihan. 4 orang pertama adalah Fian, Deaz, Luthfi, dan Faza. Kemudian larilah mereka. Nasib yang malang diderita oleh Luthfi, ia terjatuh saat berlari dan tangannya luka gores yang panjang. Kemudian ia bersama dengan Yazid dan Made pergi menuju WC untuk membersihkan tanggannya. Kemudian terlihat Made yang sedang berlari bersama dengan Radit dan Edrian. Kemudian saat penilaian tiba, 4 orang pertama yang berasal dari kelas Dhe adalah Faiz, Fian, Faza, dan Deas. Mereka pun berlari. Sampailah pada saat Radit yang terkenal dengan badan besarnya dan ketiga lawannya berlari. Saat berlari, ia terjatuh. Bajunya penuh dengan tanah. "Eh Dit, kenapa lu ?", tanya Faiz sambil tertawa. "Tadi gua berenang di tengah", jawab Radit. Kemudian siswa Dhe Dusun pun keluar dari GOR dan mengobrol di dekat lapangan parkir. "Eh Dit, kenapa lu, baju sampai kotor gitu", tanya Garin. "Jatuh tadi ditengah, terus gua diem dulu. Pas semuanya selesai ketawa, gua berdiri lagi", tanya Radit. "Lu mah jatuh ada Airbagnya", kata Edrian. Kemudian datang supir angkot menghampiri mereka. "Itu kenapa ?", tanya supir angkot. "Jatuh pak", jawab Radit. "Itu pak, yang lebih parah mah", kata Fadhil dan kawan-kawan. "Iya pak yang itu, kayak di amplas tangannya", kata Faiz. Kemudian luka Luthfi pun di obati oleh supir angkot tersebut.
Kemudian obrolan berlanjut. "Eh Dit, itu gimana ceritanya, jatuhnya kedepan ?", tanya Fadhil. "Eh Dil, jatuhnya ya pasti kedepan lah", kata Faiz. "Bisa aja ke belakang", kata Fadhil. "Dil...Dil, jatuhnya mah kedepan, bajunya yang kotor kan depannya. Masa jatuh ke belakang kotornya di depan sih", kata Garin. "Ya.....", sorak yang lain. "Itu gimana ceritanya Dit ?", tanya Faza. "Kan pas gua lagi lari, tanahnya licin jadi sepatu gua selip trus jatuh. Nah pas jatuh gua diem dulu biar nggak malu. Pas sudah pada ketawa, baru gua lari lagi", jawab Radit. "Emang jatuhnya meluncur ?", tanya Ryan. "Iya, kayak berenang gitu", jawab Radit. "Kaya Pesawat Hercules jatuh", kata Faiz. "Eh Iz, tadi lu ngerasa getaran berapa kali pas Radit jatuh", tanya Garin. "Kerasa b***, lima kali mah ada", jawab Faiz. "Dit..Dit", kata Garin




Read More......

Ryan Pembawa Hoki

Sebelum guru mata pelajaran Ekonomi datang, seperti biasa, Dhe Dusun memanfaatkan kesempatan luang tersebut dengan sebaik-baiknya. Namun berbeda pada hari itu, kesempatan kosong tersebut dimanfaatkan untuk mengundi tempat duduk karena akan di acak kembali. Para Siswa Dhe Dusun awalnya merasa tenang, namun berubah karena nomor 4 berada di dalam undian tersebut. Para Siswa pun mengambil gulungan kertas dengan hati-hati. Setiap giliran, para siswa Dhe Dusun selalu menakut-nakuti saat seorang siswa akan mengambil gulungan.Awalnya Faiz merasa tegang, karena sat dibuka, angka yang terlihat olehnya adalah angka 4. Namun ia lega karena nomornya adalah 44. Faiz berharap kalau nomor 4 yang mengambil adalah Danny atau Agung. Tibalah saatnya Ryan, yang katanya "Chelseanya gede". Ketika dibuka, ternyata undiannya bertuliskan angka 4. Langsung saat itu juga telihat raut wajahnya yang tiba-tiba menjadi melas dan badannya terlihat lemas layaknya orang yang tertimpa musibah.Namun seluruh siswa Dhe Dusun berteriak dengan sangat gembira. Seluruh ekspresi kegembiraan tampak pada wajah seluruh siswa Dhe Dusun, terkecuali Ryan. "Mati lu Yan", kata Faiz. "Hokinya sudah abis", kata Radit. "Kali-kali gitu atuh, bikin seneng orang lain", kata Garin. "Hokinya buat orang lain", kata Fadhil.



Read More......

Rabu, 20 Mei 2009

Lantai 4 part 2

Setelah direkam, para bocah yang tadi duduk di tangga pun pindah ke pinggiran lantai empat yang dekat dengan ruangan yang berisikan komputer. Faiz, Deaz, Fian pun duduk di pagar pembatas. Para bocah-bocah itu pun mengobrol dengan asyik sambil menyaksikan pemandangan Gunung Salak. "Eh Gunung Salak yang di sana kan ?", Kata Fian sambil menunjuk arah yang salah. "Bukan b***, itu Gunung Salak mah", kata Faiz sambil menunjuk gunung yang tampak dari tempat duduknya. "Ia yang itu", kata Fadhil. "Itu mah puncak", kata Fian. "Bukan b***, itu Gunung Salak, di sana Puncak mah", kata Garin. "Ia, Gunung Salak yang ke arah Selatan, berarti yang itu", kata Faiz. "Yah.....", sorak Garin cs."Trus kalau Gunung Bunderan dimana yah ?", kata Garin. "Ia, ntar ada yang kotak", kata Faiz. "Emang ada yah ?", kata Fian. "Ada b***", kata Garin. "Eh, itu Gunung Salaknya bergetar, kedinginan", kata Faiz. "Lucu iz", kata Fadhil. Kemudian, terlihat guru yang sedang mengajar kelas 8*. Fian, Fadhil, Garin pun memanggil nama guru tersebut. Saat guru tersebut menengok, mereka bersembunyi (biasalah, kegiatan anak dusun). Kemudian mereka berbincang kembali sambil menikmati segarnya udara di atas. "Kaya di puncak", kata Radit. "Eh, padahal nginep disini, bikin tenda disini", kata Faiz sambil menunjuk bagian sekolah yang belum selesai. "Ia juga, gratis lagi", kata Ryan. "Coba kalo bisa ke atas lagi", kata Fian. "Ngapain cape-cape, udah disini, terus bakar-bakaran", kata Faiz. "Emang punya siapa", kata Ryan dan Fadhil. "Punya Pemerintah da", kata Faiz. Setelah itu, topik yang di perbincangkan pun berganti. "Eh itu yang hijau-hijau apaan", kata Fadhil. "Kebun Teh", kata Fian. "Bukan b***, lapangan golf. Kalau kebun teh mah agak turun. Itu rata gitu", kata Faiz. Kemudian terdengarlah suara bel. "Tinggal sejam lagi", kata Faza. "Itu suara bel BM", kata Faiz. "Yah..."sorak yang lain. "Si Faza mabok kali yah", kata Faiz. "Kenapa za ?", kata Garin. Setelah itu Faiz menunjuk sebuah benda yang tampak berwarna putih dari kejauhan. "Eh, itu yang putih-putih apaan", kata Faiz. "Itu, eehh, Ceremory", Kata Fian. "Kok Ceremory, Cimory kali", kata Faza. "Eh Cimory mah di Puncak b***, itu kan Gunung Salak", kata Fadhil. Fian pun disorakin kembali. Kemudian Isal mendengarkan lagu dari hpnya. "Iya, ketahuan kampungya", sorak Faiz dan Ryan. "Iya sia, kaya orang kampung hpnya simpen di kantong trus di dengerin. Ntar lagi muter-muter geura", kata Fadhil. Kemudian. "Eh itu lagu apaan", tanya Fadhil. "Yah....., kampung!!!", sorak Garin cs.



Read More......

Lantai 4 part 1

Pada saat pelajaran Bahasa Inggris, Anak Dhe Dusun melakukkan kegiatan belajar di perpustakaan. Seharusnya, pada pelajaran Bahasa Inggris hari itu adalah penilaian pembacaan pidato. Namun, karena siswa dan siswi Dhe Dusun merasa belum siap dan ada juga yang belum membuat, maka penilaiannya diundur menjadi hari Rabu. Anak Dhe Dusun pun dapat bernafas dengan lega. Sebagian anak Dhe Dusun hanya tinggal di kelas karena malas, seperti Yazid, Made, Wildan yang malah asyik main kartu di dalam kelas. Siswa yang telah sampai di lantai 4 pun tidak berani masuk ke dalam perpustakaan karena sedang digunakan oleh kelas 8*. Oleh karena itu, Faiz, Ryan, Garin, Fadhil, Faza, Radit, Izal, Fian, Edrian, Luthfi, dan Danny hanya duduk di tangga.Terjadilah obrolan yang seru sampai Radit melempar sepatunya ke Faiz. Faiz pun mengambilnya dan melempar ke bawah. Oleh Fian, sepatu tersebut dilempar lebih jauh lagi. "Eh iz, ambilin sepatu gua!", kata Radit dengan nada kesal. "Si Fian, gua cuman lempar sampai tengah", kata Faiz. "Ah bodo amat, pokonya ambilin", kata Radit."Kan tadi gua lemparnya sampai tengah, yang ke bawahin si Fian. Jadi si Fian ambil dulu sampai tengah, trus gua yang lanjutin. Jadi ada Checkpointnya", kata Faiz. Kemudian lewatlah guru Agama Islam. Ryan pun berdiri dan mengucapkan salam. Salam tersebut dibalas oleh guru Agama tersebut. Saat sampai di bawah, guru tersebut melihat sepatu milik Radit. "Wah, parah si Fian, itu Pak, si Fian yang ngelempar", kata Garin cs.Fian pun mengambilnya dan melemparkannya ke atas, diteruskan oleh Faiz. Sejenak setelah mengobrol, Fian berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Tiba-tiba keran air di dalam WC mengalir. "Wah si Fian parah nih", kata Garin. "Ian ian", panggil Faiz. "Apaan ?", jawab Fian. "Edrian da", kata Faiz sambil menatap Ryan. "Kok Edrian ?", kata Ryan. "Salah", kata Faiz. Fian pun duduk kembali ke tempat duduknya. Saat itu juga aliran air keran di WC itu pun berhenti. Fian kembali diejek. Saat Fian berdiri, "Eh pantesan airnya keluar, tuh bekas tempat duduknya basah", kata Garin sambil menunjuk tempat duduk Fian. "IIhh...", sorak Faiz cs. Kemudian, munculah ide membuat adegan melompat dari lantai 4 ke bawah. Awalnya dimulai oleh Faiz dan direkam oleh Radit. Sebelum melompat, Faiz bergaya mengambil nafas dalam-dalam seolah nafas tersebut adalah nafas terakhirnya. Adegan pun berhasil dan di susul oleh Fian. Saat melompat, kamera milik Radit belum siap merekam sehingga adegan yang terekam hanya saat Fian sedang melayang dan jatuh.

Read More......

Kartu

Setelah pelajaran Bimbingan Konseling selesai, jam pelajaran selanjutnya kosong, karena guru yang mengajar tidak hadir di kelas karena ada keperluan. Suasana kelas pun menjadi ribut. Sebagian siswa Dhe Dusun berkumpul di barisan bangku belakang dan mengobrol. Alfian dan Faiz turun meributkan suasana dengan memainkan gitar secara bergantian. Faza dan Edrian tidak ikut perkumpulan tersebut dan hanya mengobrol biasa. Kemudian dimainkanlah salah satu permainan favorit siswa Dhe Dusun, yaitu permainan kartu Yu Gi Oh. Kartu yang menjadi korban pinjaman adalah milik Made dan Deas. Permainan pun berlangsung dengan pertandingan Wildan melawan Garin. Kemudian Radit datang dan duduk di bangku Edrian dan mengobrol dengan seru. Beberapa saat kemudian, Yazid pun ikut melihat permainan kartu tersebut. Saat bermain, Wildan, Garin, Faiz, Danny, dan Deas beradu mulut sehingga terjadi keributan. Kemudian, Faiz menghampiri Radit, Edrian, dan Faza yang sedang mengobrol. "Eh, lu tadi denger nggak", kata Faiz kepada Radit. "Denger apaan ?", tanya Radit. "Itu", kata Faiz sambil menunjuk yang sedang bermain kartu. "Apanya ?", tanya Edrian. "Itu, riweuh", kata Faiz. "Oh.. Dengerlah, kalau gua nggak denger berarti gua budek atuh, orang suaranya gede gitu", kata Faza. "Nggak balik ke sana lagi ?", kata Radit kepada Faiz sambil menunjuk yang sedang bermain kartu. "Kagak, riweuh", kata Faiz. Kemudian Garin berteriak kepada Faiz. "Nggak main iz ?", tanya Garin. Faiz menjawab dengan menggelengkan kepala. "Yah, cupu sia", kata Garin

Read More......

Selasa, 05 Mei 2009

Drama Konyol

Kelas Dhe Dusun memulai hari Senin ini dengan pelajaran PLH. Dhe Dusun ditugaskan untuk memungut sampah di sekitar halaman sekolah untuk mendapatkan nilai +. Tugas tersebut dikelompokkan sesuai dengan kelompok piket. Tugas pun dimulai. Saat sedang mengerjakkan tugas tersebut, Agung mendapatkan ide untuk mengambil sampah dari tong sampah agar plastik kelompoknya penuh. Kegiatan tersebut diikuti oleh kelompok yang lain. Nasib malang dialami oleh siswa suporter Arema. Pertama, bungkus recorder miliknya dibuang karena dikira sampah, dan yang kedua catatan not angka untuk Seni Budaya yang dicatatnya pada kertas selembar pun ikut lenyap. Setelah tugas tersebut selesai, Dhe Dusun harus memperbaiki nilai PLH mereka dengan melakukkan Drama, baca puisi, vocal group atau yang lainnya. Tugas tersebut dimulai dengan kelompok Amanah a.k.a "Kere" yang menampilkan vocal group. Ending pada lagu kelompok tersebut diulang terus menerus. Kata Ryan mah "Ampe B***". Kemudian di susul oleh penampilan Bagas yang menampilkan solo violin dengan membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Setelah selesai, terjadi jeda sebentar karena ada sebagian siswa dan siswi yang belum siap tampil. Setelah jeda berakhir, disusul oleh kelompok Wildan yang membawakan lagu modifikasi yang berjudul Tepati janji. Dengan diiringi oleh alunan suara gitar yang dimainkan oleh Fian dan Faza.
Sampailah pada klimaks dari pertunjukkan. Kelompok yang salah satunya beranggotakkan Faiz, Ryan, Agung, dan, Danny tampil. Kelompok mereka tampil ber-12-an atau selusin. Mereka akan menampilkan drama colosal. Drama dimulai dengan adegan Faiz, Ryan dan Fadhil sedang menebang pohon, namun mereka malah memerankan adegan layaknya orang bercangkul. Kemudian terjadilah adegan demo, dimana Garin bertindak sebagai orator dan Yazid berperan sebagai orang yang kata orang mah ngariweuhkeun. Tampak perlatan demo yang lengkap, sampai-sampai Yazid memakai ornamen-ornamen yang menyilaukan mata (entah alami atau bukan). Terjadilah adegan konyol, saat Radit yang berperan sebagai anggota dewan hendak menelpon Made yang berperan sebagai pimpinan Mabes Polri. Ketika Radit sedang menelpon,bukannya mengangkat telepon dan berbicara duku, Made malah langsung berlari dengan konyol mendatangi Radit. Drama tersebut pun berakhir dengan gemuruh suara tawa Dhe Dusun.



Read More......

Salah Paham

Assalamualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah, akhirnya masa belajar dirumah telah usai yaitu pada tanggal 4 Mei 2009. Telah lama sekali admin tidak memposting mengenai kehidupan anak dusun, karena mereka memiliki aktifitas masing-masing. Tanpa panjang lebar lagi, saya mulai postingannya.


Pada hari Senin pagi di lapangan SMPN 1 Bogor, tampak Faiz yang sedang duduk di bawah pohon sambil menunggu kedatangan seseorang. Ia kebingungan akan tempat duduknya yang kembali di acak. Akhirnya seorang siswa anak dusun pun datang dan langsung membimbing Faiz kembali menuju ke tempat duduk yang benar. Hari pertama dusun pun dimulai dengan genjrengan gitar yang dimainkan Faiz. Kemudian Deaz pun datang dan mengolok-olok Faiz karena tim kebanggaan sepak bolanya kalo kata orang mah "dibantai" 6-2. Garin sang orator pun datang dan mengejek Faiz. Kemudian, Faiz meminjamkan gitar yang sedang dimainkannya ke Fian. Kebisingan pun terus berlanjut hingga terdengarlah pengunguman bahwa seluruh siswa kelas 8* * * * harus berkumpul di lapangan. Made yang salah mendengar pun mengajak sebagian siswa Dhe Dusun, yaitu Alfian, Faiz, Radit, Ryan, dan Edrian ke bawah. Sesampainya di bawah, mereka menunggu kedatangan siswa dan siswi Dhe Dusun yang lain. Namun ternyata tidak muncul juga. Timbulah firasat bahwa kelas D tidak di panggil. Made pun langsung bertanya pada salah seorang guru. Ternyata firasat tersebut benar. Dengan rasa malu, Ryan dan kawan-kawan pun berlari sambil menyalahkan Made. "Ngerakeun sia teh!", teriak Faiz dan Radit kepada Made.



Read More......

Kamis, 16 April 2009

Nona Manis

Inilah jam-jam yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa dan siswi Dhe Dusun. Yaitu jam dimana mereka akan diambil nilai suling recorder secara berkelompok pada pelajaran Seni Budaya. Seluruh kerja keras, Ekstra Kerja keras (Kelompok Faiz), seluruh pengorbanan waktu dan tenaga akan berbuah angka-angka yang akan tertulis pada buku nilai. Hampir seluruh siswa dan siswi mulai terasa tegang, dan ada juga yang santai. Mereka harus menampilkan hasil latihan mereka dengan bagus agar dapat memuaskan hati sang guru dan mendapatkan nilai yang sesuai dengan kerja keras mereka. Saat pengambilan nilai pun dimulai. Kelompok diurut dari mulai kelompok nomor urut terakhir ke nomor pertama.Walaupun saat latihan seluruh kelompok terdengar bagus. Namun saat pengambilan nilai, hampir setiap kelompok melakukan kesalahan.Contohnya: Wildan salah dalam gerakan sehingga mengurangi nilai, Faiz dan Ryan yang kurang konsentrasi, Faza yang terlalu serius, Alfian yang mengeluarkan keringat berlebihan, Made yang salah dalam ketukan. Hampir semua itu sesuatu yang tak diharapkan. Namun, nasi telah menjadi bubur dan pena pun telah menggoreskan angka-angka. Dibalik kesalahan tersebut terdapat suatu keceriaan tersendiri bagi anak-anak Dhe Dusun. Saat kelompok Alfian memainkan lagunya, anak-anak pun mengeluarkan bunyi perkusi dari mulutnya dan ada yang berjoget-joget.Saat kelompok Garin hampir selesai memainkan lagunya yang berjudul "Nona Manis", Wildan pun bernyanyi "Nona manis siapa yang punya. Yang punya Garindia".

Read More......

Ludah Beracun

Pelajaran Matematika pada hari ini kosong. Anak dhe Dusun memanfaatkan waktu kosong tersebut untuk berlatih suling recorder karena pada jam pelajaran terakhir yaitu pelajaran Seni Budaya, akan diadakan pengambilan tes. Semua berlatih dengan serius. Terkecuali Ryan dan Faiz. Mereka terlihat santai saja, dan saat latihan pun bercanda. Ada juga yang bermalas-malasan. Suasana kelas dipenuhi oleh berbagai macam suara alat musik. Mulai dari suling recorder, pianika, dan gitar. Kemudian, kelompok Alfian telah selesai dan ada break sebentar. Kemudian Alfian masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas, Alfian bergaya ala Drummer, yaitu memutar-mutar recorder di antara sela-sela jarinya. Akibatnya, air ludah miliknya meluncur tanpa arah dan siap mengenai siapa saja. Yuan yang saat itu berlatih recorder di dekat pintu, terkena semburan The Alfian Spit yang kata orang mah bau dan dapat menimbulkan penyakit gatal-gatal. Saat itu pula Yuan langsung mengelap pipinya dan memarahi Alfian. Alfian pun menyangkal perbuatannya. Ia mengatakan recordernya telah dikeringkan. Yuan pun langsung ke kamar mandi dan membersihkan pipinya.

Read More......

Senin, 13 April 2009

Sepatuku yang Malang

Pelajaran PLH hari ini tidak ada. Kesempatan ini dimanfaatkan siswa dan siswi Dhe Dusun menjalankan aktifitas dengan bebas. Ada yang berlatih Seni Budaya, ada yang mengobrol masalah Internet, ada juga yang hany diam saja. Yazid, Radit, Edrian, Faza, Alfian, dan Bagas sedang asyik mengobrol. Awalnya Yazid dan Faza sedang membicarakan tentang Ultimedia (organisasi yang menjual software). Kemudian beralih pada masalah DKM, karena siswa DKM yang ada di kelas 8D adalah Koor setiap bagian, terkecuali Humas. Kemudian beralih lagi ke masalah meng-hack FB orang. Fian dan Bagas amat penasaran akan masalah tersebut. Kemudian Yazid pun kaget, karena sepatu sebelah kirinya hilang. Ia mondar-mandir mencari sepatunya. Ia menanyakan satu-satu siswa yang duduk disekitarnya. Ia mengira ada yang menyembunyikan sepatunya. Ia pun membuka tirai. "Eh jid, pikir atuh, sepatukan gede. Kalo disimpen di situ pasti ketahuan. Udah di kasih kelebihan otak masih aja B***", kata Radit. Ia pun mondar-mandir di barisan yang sama dan masih mencari sepatunya. "Eh jid, lu muter kesana coba, kan masih luas ke sana. Siapa tau aja ada di barisan sana", kata Faza sambil menunjuk barisan 4. "Ia sih, udah di kasih kelebihan otak juga", kata Radit.

Read More......

Buku PLH

Saat pagi hari, pelajaran pertama kelas Dhe Dusun adalah PLH. Pada minggu sebelumnya, siswa dan siswi yang tidak membawa buku paket PLH dihukum di depan, sehingga apabila hari ini ada yang tidak bawa, maka akan dihukum lagi. Sayangnya, banyak siswa yang belum mendapatkan foto kopian buku PLH tersebut. Ada yang belum pesan, ada yang belum bayar, dll. Faiz, Garin dan teman-temannya berdatangan menuju meja Fathia, meminta foto kopian PLH. Faiz beruntung telah memesan dan membayar, sehingga ia mendapatkan buku dan dapat bernafas lega. Nasib malang yang menimpa Garin. Awalnya Garin hendak engambil buku milik Made, karena ia berfikir mungkin hari ini Made tidak masuk. "Ntar kalo Made masuk gua suruh pulang lagi", kata Garin memaksa Fathia untuk memberikan buku milik Made. Namun, Made pun datang dan bukunya tidak jadi direbut oleh Garin. Sasaran kedua Garin adalah Yazid. Kembali kata-kata"Ntar kalo Yazid dateng gua usir" keluar dari mulutnya. Dan Yazid pun datang. AKhirnya Garin bersama peliharaanya berkeliling door to door pada setiap kelas dan menanyakan ada buku PLH yang tidak terpakai. Garin pun mendapatkan buku PLH dari kelas 8*. Ia pun mengganti nama pemilik asli buku tersebut menjadi namanya. Saat melakukan tadarus, Faiz sadar. Ternyata buku miliknya hilang. Terlihat dari ekspresinya ia kebingungan dan gelisah mencari buku tersebut. Ternyata bukunya terdapat di meja Eriz, yang awalnya akan di pakai oleh Eriz. Terjadilah keributan antara Faiz dan Eriz. Kerja keras yang telah dilakukan oleh Garin ternyata sia-sia. Guru mata pelajaran PLH ternyata berhalangan untuk hadir mengajar di kelas.

Read More......

Ratapan Alfian

Hari ini merupakan hari yang menyedihkan bagi Alfian. Ia mendapatkan julukan baru, yaitu "P*****". Dimulai ketika Siswa dan Siswi Dhe Dusun mendapat tugas mengerjakkan latihan pada buku PLH. Bagi siswa dan siswi yang tidak membawa buku, mereka berdiri di depan kelas. Saat di depan, Faiz sedang asyik mengobrol dengan Ryan dan Deaz. Tiba-tiba "Eh Iz, si Alfian mirip p*****", kata Garin kepada Faiz. Danny, Agung, Ryan, Deaz pun tertawa. Alfian hanya bisa diam diolok-olok mereka. Kejadian mencapai puncaknya ketika saat pelajaran Bahasa Inggris. Alfian kembali diolok olok oleh Faiz, Ryan, Radit, Yazid, Agung, dan Wildan. "Eh, p*****nya (muka) nggak usah lebay gitu dong", kata Faiz. "P*****nya nggak usah melas gitu dong", kata Ryan. Alfian pun terus menerus diejek hingga bel pulang sekolah berdering.

Read More......

Waktu Sholat

Dusuner Member Alpha

Dusuner Player


MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template